menu melayang

Kamis, 02 Juli 2020

DRAMA COVID 19


Saya ungkapkan pengalaman dari salah satu murid saya yang menjadi perawat di RS. Cerita begini, jujur saja, membuat saya marah. Rakyat kita jadi korban bukan karena Corona, tapi karena kebijakan keliru yang mengatasnamakan Corona. Maka solusi yang logis adalah CABUT DARURAT KESEHATAN DAN BUBARKAN GUGUS TUGAS COVID 19.

"Ini salah satu pengalaman saya sebagai salah satu paramedis yg ikut merawat pasien covid. Rumah sakit saya itu bisa dibilang rumah sakit kecil dengan penanganan mirip seperti puskesmas rawat inap, hanya saja ini milik pemerintah. Dan ketika yg berkuasa memutuskan rumah sakit ini menjadi rumah sakit isolasi khusus covid, ya mau ga mau harus ikut meski sarana prasarana tidak memadai.

Jadilah rs kita menjadi tempat rujukan covid di kabupaten ini. Pasien covid datang dan diisolasi disini dari yg terkonfirmasi dan yg hanya rapid positif. Pasien covid itu beragam dan sebagian besar memang tidak memiliki gejala, jdi tidak ada yg perlu dikhawatirkan.

Yang saya tidak mengerti, banyak pasien rapid reaktif yg dirujuk ke rumah sakit ini. Memang pasien2 ini sudah di swab, hanya saja hasil swabnya datang terlambat. Sebagai catatatn, hasil swab sekarang datang lebih lambat (paling cepat 3 hari) ketimbang sebelumnya, setelah swab mandiri diperbolehkan di rumah sakit lain dengan hanya satu lab yg dipercaya.

Pasien rapid reaktif ini seringkali pasien yg akan di operasi atau yg setelah di operasi yg memerlukan perawatan intensif. Secara logika pasien ini memang memiliki riwayat penyakit lain, yg membuat kekebalan tubuhnya melemah. Jadi pasti reaktif rapidnya.

Nah ini yg membuat saya paling gemas, karna bnyak para tenaga medis/paramedis ketakutan memberikan penanganan. Padahal dalam status emergency/darurat. Bahkan dokter spesialis pun yg mumpuni yg memang memegang sumpah kedokteran, tetap saja takut menangani pasien - pasien ini sehingga pasien banyak yg terlambat mendapatkan perawatan. Dan sayangnya sering kali tidak tertolong.

Sering saya melihat kejadian dimana pasien terlambat mendapat pertolongan karna kita paramedis harus menggunakan baju astronot dulu baru boleh ke ruangan pasien. Itu memerlukan waktu yg lama. Ditambah kita mendapat 'pesan' harus berhemat agar tidak bnyak APD/baju astronot yg terpakai dalam satu kali jaga, karna itu mahal.

Ada juga kejadian dimana pasien pasca operasi yg kita rawat disini yg sudah dirujuk balik kembali ke Rumah sakit biasa karena sudah swab negatif kondisinya memburuk, dan banyak yg tidak terselamatkan. Itu karna kondisi pasca operasi memerlukan penanganan intensif dan itu tidak dapat kami berikan secara maksimal.

Dan bagi pasien yg tidak terselamatkan ini meski hanya reaktif dalam rapid test dan swab masih menunggu hasil, tetap harus dimakamkan dengan protokol covid. Yang mana keluarga tidak ada yg boleh ikut dan melihat prosesinya karna harus di karantina, belum lagi cibiran masyarakat yg begitu keras kepada keluarga. Dan semua itu makin membuat prihatin bila hasil swab yg datang adalah negatif, semua itu terasa memprihatinkan.

Saya disini hanya memberitahu pengalaman saya. Mungkin saja orang lain punya pengalaman beeveda, tapi realitanya memang seperti itu adanya yang saya alami. Yang jadi masalah Ini bukan soal penyakitnya tapi tentang kepentingan yang melahirkan kebijakan, dan itu membawa korban."

CATATAN: Nama murid saya dan nama RS tidak saya sebut. Jika ada yang keberatan silakan berhadapan dengan saya.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel